Awalnya
aku merasa bahagia saat tahu aku akan dengannya. Aku pikir aku bisa lagi
bersama dengan dia. Aku bisa tertawa lagi bersamanya. Aku bisa ngobrol lagi
bersaman. Semuanya terasa indah saat aku membanyangkannya. Itu yang ada
dibenakku saat awal dan begitu indah dan nyata. Aku bersama teman-temannku
sudah membanyangkannya dan rasanya itu akan menjadinyata di hari esok. Sesuatu
yang terlihat menyenangkan.
Namun
saat malam datang, entah mengapa aku tak bisa seceria saat aku dan
teman-temannku membanyangkannya, semua berubah ada sesuatu yang membuatku
mengganjal. Dan sesuatu itu membuatku tak tenang. Aku tak biasa tidur saat
bangun tengah malam, pikiranku entah kemana, aku mulai gelisah yang tak pasti.
Hatiku merasa tak tenang, entah apa yang akan terjadi di hari esok.
Hingga
datanglah waktu pagi, hari yang ditunggu-tunggu yah aku merasa bahagia saat aku
mengingat aku akan bersamanya. Dan saat yang ditunggu-tunggu detik terus
berjalan, menit terus berganti, jam terus berdetak. Aku makin gelisah saat
dimana aku memintanya untuk datang ketempatku, tak satupun sms yang dia balas
dan saat itu aku mulai gelisah. Dan saat dia ditanya lewat telfon dia pun
bingung, dan itu membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dan
waktu terus mendekat ke jam, saat itu dia tiba-tiba memberi kabar dia tak bisa,
rasanya seperti ada jarum yang menusuk, kepala kejatuhan batu, semua semakin
membuatku kecewa.
Semua
yang dibanyangkan mulai terasa kabur, semua mulai terasa tak jelas, semua
menjadi gelap yah itu yang aku rasa. Dan saat yang ditunggu-tunggu pun tiba,
dia bersama orang lain, feeling yang aku rasakan selama dijalan ternyata benar.
Dan apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus tertawa, senang, bahagia,
menangis. Dan aku tak tahu rasanya hari ini begitu berat, begitu melelahkan,
begitu menyakitkan seperti tersayat-sayat. Dan itu harus aku jalani dan
tersawaktu tak berputar. Tiba-tiba waktu jam berhenti begitu saja dalam kurun
waktu beberapa detik. Dan saat itu aku tak sadar, aku tak merasakan apa-apa.
Aku hanya seperti bonekah yang diam tak bererak, otakku tak mau berfikir,
nafasku berhenti, jantungku berdetak lebih keras.
Hingga
aku menyadarinya dan aku aku sadar dari semua lamunan, dari semua kenyataan
yang menyakitkan ini, dan dia tersenyum, senyum yang membuatku sakit, membuatku
kecewa, membuatku perih. Terlihat begitu kompak mereka, begitu serasi mereka
dan itu membuatku semakin perih. Aku merasa tak kuat lagi melihatnya. Melihat
mereka bersama, rasanya hidup tak adil, aku harus merasakan sesakit ini dan
mereka berdua tertawa bersama. Aku tak bisa berbuat apa-apa, ingin rasanya aku
pergi dari hadapan mereka, melepaskan rasa kekesalanku berteriak sekencang
kencangnya, menangis sekeras-kerasnya. Tapi aku tak punya daya, aku tetap harus
melihat mereka bersama sepanjang detik, setiap meniat, setiap perputaran jarum
jam.
Aku
harus mencoba tegar dihadapan semua orang, semua teman-teman kalau aku tak
apa-apa, namun semua hanya sirna dalam waktu sekejab. Aku tak sanggup lagi,
semua pertahanku patah, aku hanya bisa menangis rasa kekecewaanku benar-benar
telah memuncak, dan aku hanya biasa menangis dan terus menangis. Entah berapa
lama aku nenangis, entah seberapa banyak air mataku keluar untuknya. Entah
seberapa tetesan air mata itu yang membasahi temanku, aku tak mapu berfikir
jernih.
Kehidupanku
terasa gelap, semua menjadi tak pasti, semua menjadi menyakitkan. Dan saat tiba
hati ku semakin terluka, terluka melihat mereka bersama, melihat kemesraan
mereka dan itu semakin membuatku terluka. Aku hanya bisa melihat dan mengeluarkan
air mata semua semakin nyata dan menyakitkan.
Hatiku
benar-benar telah menjadi kepingan an rapuh, dengan setia temanku memberi
kekuatan, tapi kekuatan itu terasa tak ada gunanya detik demi detik, menit
terus berganti, rasanya semakin perih. Dan temanku terus memberi kekuatan agar
aku tegar, agar aku kuat, dan bersikap selayaknya. Dan aku mencobanya dengan
senyuman meti hati terasa berat dan menyakitkan.
Waktu
berputar serasa lambat dan semakin lambat, rasa sakit mulai tumbuh lagi saat
melihat mereka bersama, melihat kemesraan mereka. Hati semakin perih, air mata
mulai tumbuh tapi aku harus kuat, aku tak boleh lemah dihadapan semuanya.
Untung saja temanku selalu setia disampingku entah apa yang terjadi kalo dia
tak ada. Mungkin aku hanya akan membuang air mataku secara Cuma-Cuma untuk
mereka.
Dan
saat yang ditunggu-tunggu tiba, saat yang aku banyangkan sejenak, aku merasa
semakin canggung denganya semakin asing dengannya. Dia tak sengaja duduk di
sampingku dan aku hanya bisa mencoba menguatkan diri dan cewe itu juga duduk
disampingku dan aku hanya mencoba tersenyum.
Pandangan
mata wanita itu tersa menusuk hati yang dikatakan orang lain kepadaku, namun
aku tak pernah merasa sadar karena aku selalu berusaha menghindari kontak mata
secara langsung dengannya. Mungkin wanita tau, mungkin wanita itu menyadarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar