Halaman

Kamis, 06 Desember 2012

feeling ^_*

Awalnya aku merasa bahagia saat tahu aku akan dengannya. Aku pikir aku bisa lagi bersama dengan dia. Aku bisa tertawa lagi bersamanya. Aku bisa ngobrol lagi bersaman. Semuanya terasa indah saat aku membanyangkannya. Itu yang ada dibenakku saat awal dan begitu indah dan nyata. Aku bersama teman-temannku sudah membanyangkannya dan rasanya itu akan menjadinyata di hari esok. Sesuatu yang terlihat menyenangkan.
Namun saat malam datang, entah mengapa aku tak bisa seceria saat aku dan teman-temannku membanyangkannya, semua berubah ada sesuatu yang membuatku mengganjal. Dan sesuatu itu membuatku tak tenang. Aku tak biasa tidur saat bangun tengah malam, pikiranku entah kemana, aku mulai gelisah yang tak pasti. Hatiku merasa tak tenang, entah apa yang akan terjadi di hari esok.
Hingga datanglah waktu pagi, hari yang ditunggu-tunggu yah aku merasa bahagia saat aku mengingat aku akan bersamanya. Dan saat yang ditunggu-tunggu detik terus berjalan, menit terus berganti, jam terus berdetak. Aku makin gelisah saat dimana aku memintanya untuk datang ketempatku, tak satupun sms yang dia balas dan saat itu aku mulai gelisah. Dan saat dia ditanya lewat telfon dia pun bingung, dan itu membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Dan waktu terus mendekat ke jam, saat itu dia tiba-tiba memberi kabar dia tak bisa, rasanya seperti ada jarum yang menusuk, kepala kejatuhan batu, semua semakin membuatku kecewa.
Semua yang dibanyangkan mulai terasa kabur, semua mulai terasa tak jelas, semua menjadi gelap yah itu yang aku rasa. Dan saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, dia bersama orang lain, feeling yang aku rasakan selama dijalan ternyata benar. Dan apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus tertawa, senang, bahagia, menangis. Dan aku tak tahu rasanya hari ini begitu berat, begitu melelahkan, begitu menyakitkan seperti tersayat-sayat. Dan itu harus aku jalani dan tersawaktu tak berputar. Tiba-tiba waktu jam berhenti begitu saja dalam kurun waktu beberapa detik. Dan saat itu aku tak sadar, aku tak merasakan apa-apa. Aku hanya seperti bonekah yang diam tak bererak, otakku tak mau berfikir, nafasku berhenti, jantungku berdetak lebih keras.
Hingga aku menyadarinya dan aku aku sadar dari semua lamunan, dari semua kenyataan yang menyakitkan ini, dan dia tersenyum, senyum yang membuatku sakit, membuatku kecewa, membuatku perih. Terlihat begitu kompak mereka, begitu serasi mereka dan itu membuatku semakin perih. Aku merasa tak kuat lagi melihatnya. Melihat mereka bersama, rasanya hidup tak adil, aku harus merasakan sesakit ini dan mereka berdua tertawa bersama. Aku tak bisa berbuat apa-apa, ingin rasanya aku pergi dari hadapan mereka, melepaskan rasa kekesalanku berteriak sekencang kencangnya, menangis sekeras-kerasnya. Tapi aku tak punya daya, aku tetap harus melihat mereka bersama sepanjang detik, setiap meniat, setiap perputaran jarum jam.
Aku harus mencoba tegar dihadapan semua orang, semua teman-teman kalau aku tak apa-apa, namun semua hanya sirna dalam waktu sekejab. Aku tak sanggup lagi, semua pertahanku patah, aku hanya bisa menangis rasa kekecewaanku benar-benar telah memuncak, dan aku hanya biasa menangis dan terus menangis. Entah berapa lama aku nenangis, entah seberapa banyak air mataku keluar untuknya. Entah seberapa tetesan air mata itu yang membasahi temanku, aku tak mapu berfikir jernih.
Kehidupanku terasa gelap, semua menjadi tak pasti, semua menjadi menyakitkan. Dan saat tiba hati ku semakin terluka, terluka melihat mereka bersama, melihat kemesraan mereka dan itu semakin membuatku terluka. Aku hanya bisa melihat dan mengeluarkan air mata semua semakin nyata dan menyakitkan.
Hatiku benar-benar telah menjadi kepingan an rapuh, dengan setia temanku memberi kekuatan, tapi kekuatan itu terasa tak ada gunanya detik demi detik, menit terus berganti, rasanya semakin perih. Dan temanku terus memberi kekuatan agar aku tegar, agar aku kuat, dan bersikap selayaknya. Dan aku mencobanya dengan senyuman meti hati terasa berat dan menyakitkan.
Waktu berputar serasa lambat dan semakin lambat, rasa sakit mulai tumbuh lagi saat melihat mereka bersama, melihat kemesraan mereka. Hati semakin perih, air mata mulai tumbuh tapi aku harus kuat, aku tak boleh lemah dihadapan semuanya. Untung saja temanku selalu setia disampingku entah apa yang terjadi kalo dia tak ada. Mungkin aku hanya akan membuang air mataku secara Cuma-Cuma untuk mereka.
Dan saat yang ditunggu-tunggu tiba, saat yang aku banyangkan sejenak, aku merasa semakin canggung denganya semakin asing dengannya. Dia tak sengaja duduk di sampingku dan aku hanya bisa mencoba menguatkan diri dan cewe itu juga duduk disampingku dan aku hanya mencoba tersenyum.
Pandangan mata wanita itu tersa menusuk hati yang dikatakan orang lain kepadaku, namun aku tak pernah merasa sadar karena aku selalu berusaha menghindari kontak mata secara langsung dengannya. Mungkin wanita tau, mungkin wanita itu menyadarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar